Dalam memahami sesuatu, kita memerlukan
sebuah kesabaran. Jangan terlalu cepat
mengambil kesimpulan atau
mengabaikannya. Terlalu cepat mengambil
kesimpulan bisa menjadikan kesimpulan kita
salah. Jika kita terlalu cepat mengabaikan, kita tidak akan mendapatkan apa-apa.
Mungkin, perilaku ini tidak merugikan kita,
tetapi kita bisa melewatkan peluang yang
bisa jadi ada di hadapan kita. Peluang usaha, peluang kerja, dan setidaknya mendapatkan
peluang mendapatkan ilmu atau pemahaman
baru. Jika kita belajar kepada Einstein, dia
mengaku kalau dia tidak pintar-pintar
banget, dia hanya lebih lama dalam
memikirkan masalah. Sebagaimana dia
katakan: Dengan berpikir lebih lama, maka kita akan
memiliki pemahaman yang lebih mendalam.
Kita akan mendapatkan ilmu dan kebijakan
yang lebih baik. Bisa jadi kita akan
menemukan ide atau peluang yang akan
bermanfaat bagi kehidupan kita. Dan, hal ini tidak akan kita dapatkan jika kita terlalu
cepat mengambil kesimpulan atau langsung
mengabaikan apa yang tidak kita pahami. Jika sesuatu yang kita baca, kita perhatikan,
atau masalah yang kita hadapi begitu sulit
untuk kita hadapi, bisa jadi yang menjadi
masalah ada pada diri kita. Artinya kita
perlu meningkatkan wawasan dan ilmu kita
agar bisa memahami apa yang ada di hadapan kita. Ingatlah waktu kita sekolah,
saat kita menemukan soal yang sulit,
langkah yang terbaik adalah belajar lagi
sampai kita bisa mengerjakan soal tersebut.
Bukan malah memarahi guru dan
menyuruhnya membuat soal yang lebih mudah. Sering kali orang berkata, “Nggak ngerti
ah….” sambil langsung mengabaikan apa
yang dia baca. Ini lebih mending, dibanding
orang yang marah-marah atau mengeluh
karena tidak mengerti. Yang benar adalah,
cobalah memahami lebih lama. Sabarlah sampai Anda paham. Jika sudah lama Anda
tidak paham juga, maka carilah referensi
agar kita memahaminya. Bertanya,
membaca buku, atau melakukan penelitian.
Namun, yang kita alami, sering kali hanya
dengan berpikir lebih lama, kita akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik.,,,
http://nurfisika.blogspot.com/search/label/tugas
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Senin, 07 Mei 2012
Minggu, 29 April 2012
Belajar dari Dora
Dora dan Boots adalah tokoh utama dalam film serial kartun yang ditayangkan pada salah satu stasiun televisi swasta. Saya sering dan suka menontonnya. Dora dan boots mengajari anak kita berpetualang, dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan berbagai masalah dan situasi yang dibangun. Sangat menarik bagi anak Dora dan Boots mengajari anak untuk berpikir kreatif dan bukan menghafal. Anak dilatih untuk melihat persoalan, menyusun rencana, menetapkan sasaran, memahami proses, dan yang paling menarik adalah Dora dan boots menggunakan peta sebagai alat bantunya.
Dora dan Boots menekankan bahwa untuk dapat mencapai tujuan harus mengetahui persoalannya terlebih dahulu dan untuk bisa mengetahui persoalan harus membuat perencanaan. Setiap perencanaan dibagi dalam proses, yang terdiri atas tahapan yang harus dilalui. Mulai dari awal sampai ke titik sasaran. Untuk membantu itu semua, diperlukan petunjuk arah yang disebut peta.
Dalam film kartun ini, peta selalu digunakan sebagai alat bantu untuk memecahkan teka-teki juga alat bantu dalam proses pencapaian sasaran. Sungguh, Dora telah membuka mata saya untuk mengingat kembali dan membandingkan dengan sistem pendidikan yang ada sekarang ini.
Mari kita ingat kembali ketika masih duduk di bangku SMP atau SMA. Kita juga mendapatkan pelajaran peta pada bidang studi geografi. Namun sayangnya, cara kita dulu diajar sangatlah jauh berbeda dengan cara yang diajarkan Dora pada anak-anak.
Dulu, oleh guru geografi selalu diminta untuk menghafal kota dan ibukota dalam peta yang sedang dipelajari. Tidak seperti Dora, yang mengajarkan bahwa peta adalah alat bantu petunjuk, untuk mencapai tempat tujuan, bukan sesuatu yang harus dihafalkan.
Masih ingatkan dengan adanya ujian PETA BUTA? Kita diminta untuk menghafalkan bentuk pulau, kemudian menggambarnya, sekaligus menuliskan nama dan posisi kota sekalian. Otak kita terus menerus dipaksa untuk menghafal dan menghafal dan itu membuat sangat tersiksa. Tapi sayangnya, setelah kita menjadi orangtua dan guru, kita kembali menerapkan hal sama pada anak kita atau anak didik kita disekolah.
Lalu, apa akibatnya dari model pendidikan semacam ini? Jelas sekali, anak dan kita termasuk di dalamnya, tidak pernah tahu bahwa peta sebenarnya adalah sebagai alat bantu terbaik untuk mencapai sasaran dan bukan barang hafalan
Coba diperhatikan, jika kita sedang berwisata, sangat jelas bedanya antara turis asing dan turis lokal. Meskipun kedua turis ini sama-sama buta terhadap wilayah yang dikunjunginya, akan tetapi tampak jelas sekali perbedaannya. Turis asing akan selalu memegang peta bersamanya sebagai alat bantu mencapai tujuan. Sementara turis lokal hampir tidak pernah ada yang membawa peta, melainkan hanya bermodalkan nekat saja
Jika sampai saat ini ternyata kita pun masih menjadi salah satu turis bermodalkan nekat, jangan takut, karena itulah hasil pendidikan kita dahulu. Begitulah akibatnya jika anak terus menerus dididik dengan cara hafalan seperti burung beo dan bukan berpikir kreatif. Jadi, wajar saka jika saat ini kita memiliki cukup banyak stok orang-orang yang hanya bisa psarah menghadapi berbagai permasalahan hidup. Jangankan berusaha untuk menemukan solusi kreatif bagi diri dan bangsanya.
Dora dan Boots menekankan bahwa untuk dapat mencapai tujuan harus mengetahui persoalannya terlebih dahulu dan untuk bisa mengetahui persoalan harus membuat perencanaan. Setiap perencanaan dibagi dalam proses, yang terdiri atas tahapan yang harus dilalui. Mulai dari awal sampai ke titik sasaran. Untuk membantu itu semua, diperlukan petunjuk arah yang disebut peta.
Dalam film kartun ini, peta selalu digunakan sebagai alat bantu untuk memecahkan teka-teki juga alat bantu dalam proses pencapaian sasaran. Sungguh, Dora telah membuka mata saya untuk mengingat kembali dan membandingkan dengan sistem pendidikan yang ada sekarang ini.
Mari kita ingat kembali ketika masih duduk di bangku SMP atau SMA. Kita juga mendapatkan pelajaran peta pada bidang studi geografi. Namun sayangnya, cara kita dulu diajar sangatlah jauh berbeda dengan cara yang diajarkan Dora pada anak-anak.
Dulu, oleh guru geografi selalu diminta untuk menghafal kota dan ibukota dalam peta yang sedang dipelajari. Tidak seperti Dora, yang mengajarkan bahwa peta adalah alat bantu petunjuk, untuk mencapai tempat tujuan, bukan sesuatu yang harus dihafalkan.
Masih ingatkan dengan adanya ujian PETA BUTA? Kita diminta untuk menghafalkan bentuk pulau, kemudian menggambarnya, sekaligus menuliskan nama dan posisi kota sekalian. Otak kita terus menerus dipaksa untuk menghafal dan menghafal dan itu membuat sangat tersiksa. Tapi sayangnya, setelah kita menjadi orangtua dan guru, kita kembali menerapkan hal sama pada anak kita atau anak didik kita disekolah.
Lalu, apa akibatnya dari model pendidikan semacam ini? Jelas sekali, anak dan kita termasuk di dalamnya, tidak pernah tahu bahwa peta sebenarnya adalah sebagai alat bantu terbaik untuk mencapai sasaran dan bukan barang hafalan
Coba diperhatikan, jika kita sedang berwisata, sangat jelas bedanya antara turis asing dan turis lokal. Meskipun kedua turis ini sama-sama buta terhadap wilayah yang dikunjunginya, akan tetapi tampak jelas sekali perbedaannya. Turis asing akan selalu memegang peta bersamanya sebagai alat bantu mencapai tujuan. Sementara turis lokal hampir tidak pernah ada yang membawa peta, melainkan hanya bermodalkan nekat saja
Jika sampai saat ini ternyata kita pun masih menjadi salah satu turis bermodalkan nekat, jangan takut, karena itulah hasil pendidikan kita dahulu. Begitulah akibatnya jika anak terus menerus dididik dengan cara hafalan seperti burung beo dan bukan berpikir kreatif. Jadi, wajar saka jika saat ini kita memiliki cukup banyak stok orang-orang yang hanya bisa psarah menghadapi berbagai permasalahan hidup. Jangankan berusaha untuk menemukan solusi kreatif bagi diri dan bangsanya.
Senin, 09 April 2012
Belajar Fisika lewat Naruto
Ada yang berkata judul tulisan ini sangat ngawur. “Mana bisa kita belajar lewat kartun. Fisika kan mata pelajaran yang seram lagi menyeramkan, jadi harus dipelajari dengan serius.” Nah, kalimat terakhir inilah yang menjadi beban kami. Orang-orang yang ditakdirkan mengajar apa yang ditakuti banyak siswa. Alhasil, banyak di antara kami turut ditakuti. Padahal wajah banyak diantara kami berwajah lugu dan lucu. Tidak pantas untuk kalian benci. Hihi.. Satu siswa privat saya ini cukup istimewa. Pada awal-awal pertemuan, Ibu dari si anak pernah mengatakan bahwa anaknya butuh perhatian lebih. Degh, apa maksudnya? Katanya si anak ini kalau bosan belajar akan menunjukan sikap kontraproduktif alias ogah-ogahan. Hmm…
Suatu hari saya harus menyampaikan terkait materi perpindahan kalor. Kita tahu salah satu proses perpindahan kalor adalah konveksi. Proses ini terjadi tidak hanya pada zat cair, tapi juga pada gas. Ciri dari konveksi adalah adanya gerakan memutar partikel-partikel yang menyusun zat cair atau gas. Namun sulit juga mengambarkan gerakan partikel pada gas. Beda halnya pada zat cair yang jelas-jelas bisa dilihat oleh mata. Pernah saya sampaikan sesuai penjelasan di buku. Tidak berhasil. Bosan kali ya, buka buku lagi, buka buku lagi. Oh ya, coba dibuat lebih kongkrit.
Langganan:
Postingan (Atom)



